“Leaving On A Jet Plane”

I’m … I’m …

All my bags are packed, I’m ready to go
I’m standin’ here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye

But the dawn is breakin’, it’s early morn
The taxi’s waitin’, he’s blowin’ his horn
Already I’m so lonesome I could die

So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go

‘Cause I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

I’m …

There’s so many times I’ve let you down
So many times I’ve played around
I’ll tell you now, they don’t mean a thing

Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I’ll wear your wedding ring

So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go

‘Cause I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

Now the time has come to leave you
One more time, oh, let me kiss you
And close your eyes and I’ll be on my way

Dream about the days to come
When I won’t have to leave alone
About the times that I won’t have to say …

Oh, kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go

‘Cause I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

And I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

But I’m leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
(Leaving) On a jet plane


Sebuah cerita singkat yang membuat kita kembali berkaca.

Hari sudah semakin senja, rintik rintik hujan membasahi bumi, di persimpangan jalan yang ramai sebut saja pak sabaruddin menunggu gilirannya. Yah kini sudah ada aturan baru tentang giliran penumpang, sekarang tidak bisa asal caplok penumpang kemudian ayuh pedal. Semua disini cari nafkah, supaya tidak ada yang merasa didiskriminasikan, aturan ambil penumpang diterapkan. Becak yang telah mencaplok penumpang kemudian akan mengantri dalam antrian yang paling belakang, sementara yang belum mencaplok penumpang akan lebih didahulukan untuk mengantri penumpang, prinsip keadilan sama rata jumlah penumpang. Hujan semakin deras saja, dan matahari kembali keperaduannya. Tubuh nya yang rapuh mulai kedinginan, yah hari ini dia tidak tahu bahwa akan turun hujan, kalau tahu begitu mungkin ia akan memakai baju yang lebih hangat, Dingin angin mulai menusuk tulang-tulang rapuhnya, terbayang olehnya hangatnya rumah berkumpul bersama anak istrinya dan memakan makanan hangat. Sudah 15 tahun lamanya ia menikah dengan rukmini, mantan penjual jamu yang ia kenal dari seorang temanya yang keturunan jawa. Kini ia dikaruniai 2 orang anak, alia dan rahman. Kedua buah hatinya yang begitu ia sayangi. Teringat olehnya kalau kedua anaknya sangat suka bakso mas maman di ujung jalan, dirogoh kantongnya, berharap ada lembaran uang yang bisa ia belikan bakso kesukaan rahman, ah senyum kecil tersungging diwajah pria separuh baya, dihitungnya lembaran-lembaran lusuh seribu, lima ribu, sepuluh ribu, tiga puluh ribu. Rautnya wajahnya yang penuh harap itu terlihat padam. Hari ini hanya 30,000 yang ia dapatkan dari megayuh becak dari pagi hingga petang. Tiga puluh ribu yang bagi orang lain diluar sana hanya jumlah yang tidak ada artinya. Ah, apa yang harus ia katakan pada rukmini, sudah dua hari ini dia hanya memberikan uang 20,000 per hari pada rukmini, untunglah isrinya itu menjual kue kue kering yang ia dititipkan ke sekolah rahman dan alia, apa mau dikata ekonomi kini sangat sulit, dan ia harus bersyukur memiki rukmini, istrinya yang begitu tabah menjalani kehidupan yang sangat pas-pasan. Memang akhir-akhir ini pemasukannya jauh berkurang, mahasiswa-mahasiswa yang menjadi target pasarnya sudah balik ke kampong masing-masing, liburan semester. Hujan sudah mulai reda, dan kini gilirannya untuk mengantar penumpang,
Hari kian larut, akhir semester pun sudah diambang mata, yah akhirnya sudah lepas juga deh akhir semester ini sama seperti semester yang lalu, setiap akhir semester, ada seperti perayan kecil buat aku, biasanya aku menghabiskan beberapa hari ini untuk sekedar berkeliling dan berbelanja. Kali ini aku hangout ke sebuah mall dekat kos-kosan bersama adikku yang kebetulan sedang liburan. Tentengan belanja udah ditangan, ah aku senang sekali rasanya, entah kenapa habis setiap shopping itu rasanya yah seperti candle light dinner ama Robert pattinson di sebuah restoran mewah. Hahahha! Emejing!.
Ah hujan! Lupa bawa payung, keluhku panjang sambil menyebrangi jalan raya bersama anjani, adikku yang berumur 12 tahun yang terobsesi dengan teman sekelas nya bernama jaja. Pernah suatu ketika mama memergoki surat cinta nya yang tergerlatak diatas meja, from anjani to jaja. geli sendiri kalau ingat tingkah si jani yang lagi puber-pubernya, Akhirnya aku sampai disebarang jalan, aku lirik arlojiku, pukul 18.30, dan rintik hujan makin deras rasanya, berjalan ke kos-kosan rasanya tidak mungkin. Naik becak aja dek hari hujan, terdengar sayup sayup suara berat seorang pria, ah naek becak memang udah pilihan yang paling pas. Aku mengganggukan kepala ku ke pria separuh baya yang bertubuh cungkring, wajahnya teduh, senyum kecil tersungging di wajahnya, mau kemana dek? Tanyanya seraya mengayuhkan sepedanya, jalan jaya 1 pak, oh jalan yang di seberang mesjid nurul huda ya? Iya pak. Ah bapak ini batinku, dari pagi hingga petang menvari nafkah, ditengah hujan seperti ini ia masih mengayuhkan becak sepeda demi sesuap nasi untuk kelurganya. Tiba-tiba aku teringat ayahku, aku bersyukur ayah tidak harus mencari nafkah untuk kami seberat bapak ini, tapi sungguh aku sering lupa besyukur, aku selalu meminta uang jajan lebih kepada ayah, dan jika ayah tidak mau mengabulkan, merajuk jadi senjata yang amopuh. Ah ! manusia macam aku ini, selalu membandingkan kehidupanku dengan orang lain yang tingkat ekonominya lebih diatasku, sementara bapak ini. Ternyata banyak sekali orang diluar sana yang memilki kehidupan yang kurang beruntung. Aku sepatutnya bersyukur atas kehidupan yang telah Tuhan berikan, bukan selalu merasa kekurangan, dengan melihat kehidupan orang-orang yang bergelimang harta.

Aku ambil dompetku, dua blok lagi aku akan sampai. Si jani sudah sibuk dengan handphonenya, kepala nya menekuk dengan penuh kosentrasi. Mungkin sedang smsan sama si jaja, pikirku. Jani jani… aku lihat uang didompetku, hanya ada lembaran 2000 dan 1000, sementara selebihnya lembaran 100,000 rupiah, ah aku pikir aku akan memberikan uang 100.0000, karena biasanya ongkos becak 2000 per orang. berarti masih kurang 1000. Disini pak, ya disini ucapku seraya memberikan helaian 100.000, nggak ada duit kecil dek? Nggak ada kembaliannya “ yah ada pak, tapi Cuma 3000 rupiah, berarti kurang seribu”, gak apa apa dek, 3000 saja sudah cukup kok. Ah pak kan kurang seribu, gimana kalau saya kedalam kos dulu, ntr saya ambilkan duit 1000 nya pak, ah nggak usah dek. Bapak ini, mengayuh sepeda dari pagi hingga petang, lembaran uang seribu pasti sangat berarti, nggak sedikit para supir becak meminta ongkos yang jauh lebih tinggi, bapak ini sungguh berbeda. Hari ini aku belajar banyak dari bapak pengayuh becak.

oh mahasiswa!


mahasiswaTidak terasa sudah 4 tahun rupanya aku ‘menjabat’ menjadi mahasiswa.
sekarang sudah bak makanan, sudah hampir kadaluarsa…
ah, kenapa begitu cepat ya? aku kan masih mau mencuri-curi pandang sama dosen “…” nama dosen dirahasiakan. :) !. aka mahasiswa tidak jelas haluan. yeah time flies! . Yang paling sangat tidak siap adalah menghadapi sama apa yang namanya skripsi. Wadaw wadaw. Proses nulis skripsi yang lebih sering disebut nyusun skrispi itu sama kayak makan tahu pake cabe rawit kalo aku bilang, enak pas gigitan pertama, trus ditengah-tengahnya pedes banget, ntr pas abis makan enak nya krasa , jadi nambah lagi deh. ah jadi inget tahu brontak si pak ujang. hahahah . (maap, random).
yeah gitulah, tapi ada juga yang bilang kalo nulis skripsi itu enaknya ya diprosesnya itu. proses nunggu pak sama emak dosen pembimbing yang kadang kayak maen petak umpet ama mahasiswanya. ah ah ada ada aja, enak juga maen moodoo marble, beli kawasan jual kawasan kaya deh, hahahahhaha. (maap,lagi)
yeah, gitu dah jadi mahasiswa ya kadang maen petak umpet kadang juga maen tarik ulur hubungan, udah ampir sama kayak hubungan percintaan. kadang ya mulus, kadang ya nggak, ada turun-naik hubungan deh.
ah tapi saluut deh ama yang namanya mahasiswa tingkat akhir apalagi yang katanya mengalami peneluran keringet sebesar biji jagung. itu teprok pramuka!
tapi aku paling salut deh ama cerita kakak senior yang luar biasa bangga ceritain lagi copas sana sini skrispsi orang sambil ngasi link-linkoke buat dcopy paste! ini senior hebat juga baik hati banget nolongin adek-adek juniornya .
mahasiswa mahasiswa yang hidupnya dari hari ke hari, setiap hari mikirin gimana nyikat anggaran makan, buat beli make up (aku sih enggak ya,) sebahagian usaha dapet calon suami kaya. ya kayaknya musti dinikamatin aja hari hari menuju dan menanti peneluran keringet sebesar biji jagung ama maen petak umpetnya. yang paling penting ya semangat aja tak pernah padam, untuk membangkitkan semangat memandangi foto pacar yah tentu sangat membantu, kalo nggak punya pacar ya, pinjem foto pacar orang yah gpp juga, :P . satu lagi kayak mahasiswa tingkat akhir harus punya energi yang extra! mulai sekarang gpp kok nyicil beli pil pil penguat tubuh ama bikin otak encer, (ini menurut aku lho)… nah, nyambung k next chapter yak..

Diet Karbo


download

Diet rendah karbohidrat terkenal sebagai metode pengaturan makan yang efektif turunkan berat badan secara cepat. Diet ini umumnya dilakukan untuk menurunkan berat badan. Selain itu, beberapa metode diet karbo juga diyakini bisa mengurangi risiko penyakit jantung, beberapa penyakit kanker, diabetes dan sindrom yang mengganggu metabolisme tubuh.

Era diet rendah karbohidrat sudah diperkenalkan sejak 1860. Namun baru sangat populer di tahun 1972 berkat Dr. Robert Atkins yang menciptakan metode diet tinggi protein dan lemak. Seperti dikutip dari Mayo Clinic, diet ini membatasi asupan karbohidrat seperti nasi, tepung, gandum, roti, gula, pasta serta sayur dan buah yang mengandung pati.

Pola makan ini berfokus pada konsumsi protein tinggi termasuk daging merah, ayam, ikan, telur dan beberapa sayuran non-pati. Dalam sehari, pelaku diet hanya diperbolehkan mengonsumsi 50-150 gram karbohidrat. Bahkan ada metode yang membatasi konsumsi karbo hanya 20-30 gram sehari, atau setara dengan satu lembar roti tawar.

Apakah diet karbo benar efektif untuk menurunkan berat badan dan melangsingkan?
Kebanyakan pola diet yang membatasi asupan kalori dan nutrisi tertentu memang bisa membuat berat badan turun secara signifikan dalam waktu relatif singkat. Setidaknya dalam jangka pendek. Selain itu, mengurangi karbohidrat juga baik untuk kesehatan dan penurunan berat badan, karena jumlah karbohidrat –terutama jenis karbohidrat sederhana– yang berlebihan bisa menyebabkan diabetes, meningkatkan kolesterol dan penumpukan lemak.

“Karbohidrat itu sendiri mudah ditimbun sebagai lemak. Proses penimbunan ini lebih cepat terjadi kalau orang kurang makan sayur dan buah. (Mengonsumsi) karbohidrat putih akan lebih mudah terkena kolesterol,” ujar praktisi gaya hidup sehat dr. Phaidon L. Toruan, saat berbincang dengan wolipop beberapa waktu lalu.

Namun melakukan diet rendah karbo bukannya tanpa risiko. Apabila asupan karbo dipangkas secara drastis, masalah baru bisa muncul yaitu terganggunya sistem kinerja tubuh secara keseluruhan. Kekurangan karbohidrat, tubuh akan mengambil cadangan karbo dari tubuh sebagai energi. Akibatnya tubuh jadi lemas dan mudah lelah.

Menurut dr. Phaidon lagi, diet karbo sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Dengan kata lain Anda harus memerhatikan juga kelengkapan nutrisi seperti vitamin dan mineral. Untuk itu, sebaiknya konsumsilah karbohidrat dalam jumlah yang tepat. Menurut WebMD, orang dewasa tetap memerlukan 45-65 persen karbohidrat dalam sehari atau sekitar 300 gram (8 porsi karbo, 1 cangkir nasi per porsi).

Podcast


kurcaci

Podcasts: Another Source for Listening Input

Priscilla Constantine
Constantine525[at]verizon.net

Introduction

The advent of podcasts on the internet has given the language teacher a goldmine of materials for teaching listening skills.  This article covers the subject of podcasts on several levels.  It will first deal with the question of what podcasts are and what their advantages are. Next, the article describes how podcasts can benefit students and how to determine which podcasts would be the most beneficial. It also discusses how to maximize learning from podcasts.  Lastly, the content of ESL/EFL podcasts will be described so that the reader can take advantage of the new wealth of materials available for teaching.

What Is a Podcast?

A podcast is the name of a digital recording of a radio broadcast or similar program.  Podcasts are published on the internet as MP3 files.  Interested listeners are able to download these MP3 files onto their personal computer or personal MP3 player of any type  The files can be listened to at the convenience of the listener.  Learners can listen over and over to any material that is of interest to them.  To be useful in a school setting a teacher would need internet access, a computer that can play audio files or an MP3 player.

Podcasts can be as short as two to three minutes and as long as an hour.  Teachers can subscribe to a podcast through an RSS subscription (Really Simple Syndication).  The advantage of this practice is that as new episodes become available they are downloaded to the computer automatically.  Also, they come at no cost to the subscriber.  Because podcast content is free, teachers now have a way to build up a big listening library for their students on contemporary and relevant topics.  Teachers can also encourage students to download podcasts on their own so that they have more listening input.

Advantages of Podcasts

In thinking about podcasts, teachers might ask themselves what the benefit would be for their students.  Even at the beginning levels, learners can benefit from global listening even if they only listen from three to five minutes a day.  Beginning students will be exposed to the new language “with its own distinctive sound system, intonation patterns, pause system and word order”.  (Patterson, 2001, p.93)  The intermediate learner has a need for authentic texts and to be exposed to a variety of voices.  By the time learners reach the advanced stage, they must be able to learn from listening.  Most students in a foreign country rely heavily on reading, writing and vocabulary to learn.  It is critical for them to be able to recognize “organizational markers, cohesive devices and definitions in context.” (Patterson, 2001, p. 97)

How to Decide What Podcasts Are Beneficial

There are at least two concepts that teachers must focus on in choosing a podcast for the students to hear.  The first has to do with relevance.  In order for students to benefit from listening to a podcast the content must be relevant to the learner. When a topic is relevant, it holds the attention of the learner and thus increases motivation. (Morley, 2001) Other researchers have also commented on the need for authentic language and contexts.  By providing these tools, students will see the relevance of the activity to their long-term communicative goals. (Brown, 2001)  The desire for relevant content is personified through such courses as Business English.  In this past year, podcasts for Business English have appeared on the internet.  They deal with practical topics such as socializing, telephoning and meetings.  Teachers who teach overseas now have the opportunity to access such materials and pass it on to their students.

The second concept that a teacher must consider in choosing a podcast is that of transferability. Actually, relevance and transferability are often connected.  If students feel that the content is relevant, there is a strong possibility that what is learned can be applied to other situations whether it is at school or out in the real world. “Best listening activities present in-class activities that mirror real life.” (Morley, 2001, p.77)  For instance, students can listen to a news broadcast with topics that can later be used in a real life conversation.

Listening Techniques to Enhance Learning

Students will gain the most from podcasts if they employ strategic listening techniques to consolidate their learning.  Mendelsohn (1994) offers seven techniques that will help the listeners focus on any listening activity.

  • Listen for one crucial detail.
  • Listen for all the details.
  • Listen for the gist
  • Listen for mood and atmosphere.
  • Listen for the main idea.
  • Listen to form hypotheses and make predictions.
  • Listen to make an inference.

Have an Outcome in Mind

As students listen to a podcast, there must be a purpose for this activity.  In other words, what will the students do with the information they gained through listening?  Will they take notes, summarize the gist of a story, fill out an outline or fill in a gap story? (Morley, 2001) One can quickly see that a listening activity can involve more than one skill.  Writing can be utilized as well as speaking.  Students can discuss what they heard on the podcast.  For instance, students’ can compare their life experiences with those reported on a podcast.

What Type of Content Is Offered on ESL/EFL Podcasts?

Trying to find information on the internet can sometimes prove to be very frustrating.  However, a quick search on an internet search engine will uncover a number of new ESL podcast sites that have been developed for different purposes.  The following are just some of the topics that are covered.

  • Vocabulary
  • Grammar Topics
  • Idioms and Slang
  • Business English
  • World News and Current events
  • Limericks and Jokes
  • Songs
  • Poetry

Teachers can also take advantage of mainstream media institutions that offer free podcasts such as Voice of America and National Public Radio.  Podcasts are not just for listening.  Often there is a transcript provided along with worksheets.  Some podcasts even provide cultural notes.  A number of websites interact with the students and ask them to write in with questions or comments.  Often the comments of students provide the material for new programs. One innovative uses of podcasts is to have a student listen to a podcast and read along with its transcript. Then the student will make a recording of the material on a cassette tape and turn it into the teacher along with a written journal.  The teacher then listens to the student’s recording and gives appropriate feedback to the student.  This type of activity helps the students to develop fluency in reading, to improve pronunciation, and to acquire new vocabulary words.

Conclusion

My interest in podcasts developed because of the desire to find new materials for teaching listening skills.  In teaching listening, a teacher can fall into the bad habit of using the same listening materials over and over again.  Podcasts can supply fresh ideas and motivation.  With any new idea, a teacher must also examine the reasons for using it and the purposes it can serve.  Students in an EFL setting need to be exposed to new voices and relevant content. Podcasts can meet this need.  But, a teacher must also be committed to teaching good listening techniques such as listening for details.  At the end of the day students must be able to do something with what they have heard.  As students respond positively to listening tasks, they will be motivated to learn more.  After all, the goal of every teacher should be to help students gain confidence in hearing and understanding what is spoken in their new language.

Related Links

References

  • Brown, D. (2001). Teaching by principles: An interactive approach to language pedagogy. White Plains, NY: Longman, Inc.
  • Madden, M. (2006, November). Podcast downloading. Pew Internet & American Life Project. Available at http://www.pewinternet.org/pdfs/PIP_Podcasting.pdf.
  • Mendelsohn, D. (1994). Learning to listen: A strategy-based approach for the second language learner. Carlsbad, CA: Dominic Press, Inc.
  • Morley, J. (2001). Aural comprehension instruction: Principles and practices. In M. Celce-Murcia (Ed.), Teaching English as a second or foreign language, (pp.69-85). Boston: Heinle & Heinle.
  • Peterson, P. (2001). Skills and strategies for proficient listening. In M. Celce-Murcia (Ed.), Teaching English as a second or foreign language, (pp.87-100). Boston: Heinle & Heinle.