MYCHIC


Sebuah cerita singkat yang membuat kita kembali berkaca.

Hari sudah semakin senja, rintik rintik hujan membasahi bumi, di persimpangan jalan yang ramai sebut saja pak sabaruddin menunggu gilirannya. Yah kini sudah ada aturan baru tentang giliran penumpang, sekarang tidak bisa asal caplok penumpang kemudian ayuh pedal. Semua disini cari nafkah, supaya tidak ada yang merasa didiskriminasikan, aturan ambil penumpang diterapkan. Becak yang telah mencaplok penumpang kemudian akan mengantri dalam antrian yang paling belakang, sementara yang belum mencaplok penumpang akan lebih didahulukan untuk mengantri penumpang, prinsip keadilan sama rata jumlah penumpang. Hujan semakin deras saja, dan matahari kembali keperaduannya. Tubuh nya yang rapuh mulai kedinginan, yah hari ini dia tidak tahu bahwa akan turun hujan, kalau tahu begitu mungkin ia akan memakai baju yang lebih hangat, Dingin angin mulai menusuk tulang-tulang rapuhnya, terbayang olehnya hangatnya rumah berkumpul bersama anak istrinya dan memakan makanan hangat. Sudah 15 tahun lamanya ia menikah dengan rukmini, mantan penjual jamu yang ia kenal dari seorang temanya yang keturunan jawa. Kini ia dikaruniai 2 orang anak, alia dan rahman. Kedua buah hatinya yang begitu ia sayangi. Teringat olehnya kalau kedua anaknya sangat suka bakso mas maman di ujung jalan, dirogoh kantongnya, berharap ada lembaran uang yang bisa ia belikan bakso kesukaan rahman, ah senyum kecil tersungging diwajah pria separuh baya, dihitungnya lembaran-lembaran lusuh seribu, lima ribu, sepuluh ribu, tiga puluh ribu. Rautnya wajahnya yang penuh harap itu terlihat padam. Hari ini hanya 30,000 yang ia dapatkan dari megayuh becak dari pagi hingga petang. Tiga puluh ribu yang bagi orang lain diluar sana hanya jumlah yang tidak ada artinya. Ah, apa yang harus ia katakan pada rukmini, sudah dua hari ini dia hanya memberikan uang 20,000 per hari pada rukmini, untunglah isrinya itu menjual kue kue kering yang ia dititipkan ke sekolah rahman dan alia, apa mau dikata ekonomi kini sangat sulit, dan ia harus bersyukur memiki rukmini, istrinya yang begitu tabah menjalani kehidupan yang sangat pas-pasan. Memang akhir-akhir ini pemasukannya jauh berkurang, mahasiswa-mahasiswa yang menjadi target pasarnya sudah balik ke kampong masing-masing, liburan semester. Hujan sudah mulai reda, dan kini gilirannya untuk mengantar penumpang,
Hari kian larut, akhir semester pun sudah diambang mata, yah akhirnya sudah lepas juga deh akhir semester ini sama seperti semester yang lalu, setiap akhir semester, ada seperti perayan kecil buat aku, biasanya aku menghabiskan beberapa hari ini untuk sekedar berkeliling dan berbelanja. Kali ini aku hangout ke sebuah mall dekat kos-kosan bersama adikku yang kebetulan sedang liburan. Tentengan belanja udah ditangan, ah aku senang sekali rasanya, entah kenapa habis setiap shopping itu rasanya yah seperti candle light dinner ama Robert pattinson di sebuah restoran mewah. Hahahha! Emejing!.
Ah hujan! Lupa bawa payung, keluhku panjang sambil menyebrangi jalan raya bersama anjani, adikku yang berumur 12 tahun yang terobsesi dengan teman sekelas nya bernama jaja. Pernah suatu ketika mama memergoki surat cinta nya yang tergerlatak diatas meja, from anjani to jaja. geli sendiri kalau ingat tingkah si jani yang lagi puber-pubernya, Akhirnya aku sampai disebarang jalan, aku lirik arlojiku, pukul 18.30, dan rintik hujan makin deras rasanya, berjalan ke kos-kosan rasanya tidak mungkin. Naik becak aja dek hari hujan, terdengar sayup sayup suara berat seorang pria, ah naek becak memang udah pilihan yang paling pas. Aku mengganggukan kepala ku ke pria separuh baya yang bertubuh cungkring, wajahnya teduh, senyum kecil tersungging di wajahnya, mau kemana dek? Tanyanya seraya mengayuhkan sepedanya, jalan jaya 1 pak, oh jalan yang di seberang mesjid nurul huda ya? Iya pak. Ah bapak ini batinku, dari pagi hingga petang menvari nafkah, ditengah hujan seperti ini ia masih mengayuhkan becak sepeda demi sesuap nasi untuk kelurganya. Tiba-tiba aku teringat ayahku, aku bersyukur ayah tidak harus mencari nafkah untuk kami seberat bapak ini, tapi sungguh aku sering lupa besyukur, aku selalu meminta uang jajan lebih kepada ayah, dan jika ayah tidak mau mengabulkan, merajuk jadi senjata yang amopuh. Ah ! manusia macam aku ini, selalu membandingkan kehidupanku dengan orang lain yang tingkat ekonominya lebih diatasku, sementara bapak ini. Ternyata banyak sekali orang diluar sana yang memilki kehidupan yang kurang beruntung. Aku sepatutnya bersyukur atas kehidupan yang telah Tuhan berikan, bukan selalu merasa kekurangan, dengan melihat kehidupan orang-orang yang bergelimang harta.

Aku ambil dompetku, dua blok lagi aku akan sampai. Si jani sudah sibuk dengan handphonenya, kepala nya menekuk dengan penuh kosentrasi. Mungkin sedang smsan sama si jaja, pikirku. Jani jani… aku lihat uang didompetku, hanya ada lembaran 2000 dan 1000, sementara selebihnya lembaran 100,000 rupiah, ah aku pikir aku akan memberikan uang 100.0000, karena biasanya ongkos becak 2000 per orang. berarti masih kurang 1000. Disini pak, ya disini ucapku seraya memberikan helaian 100.000, nggak ada duit kecil dek? Nggak ada kembaliannya “ yah ada pak, tapi Cuma 3000 rupiah, berarti kurang seribu”, gak apa apa dek, 3000 saja sudah cukup kok. Ah pak kan kurang seribu, gimana kalau saya kedalam kos dulu, ntr saya ambilkan duit 1000 nya pak, ah nggak usah dek. Bapak ini, mengayuh sepeda dari pagi hingga petang, lembaran uang seribu pasti sangat berarti, nggak sedikit para supir becak meminta ongkos yang jauh lebih tinggi, bapak ini sungguh berbeda. Hari ini aku belajar banyak dari bapak pengayuh becak.

This entry was published on June 13, 2013 at 2:10 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: